pesan

Minggu, 14 Desember 2014

Desa Kami Masih Perawan

 Desa Aengsareh merupakan salah satu desa dari banyak desa di kabupaten sampang, desa yang terpencil terletak di bagian selatan Kabupaten Sampang. Desa yang tidak cukup terkenal namun mempunyai banyak kekayaan Alam dan pemandangan yang indah itulah desa saya.
Desa yang mempunyai sekitar lima ribu penduduk itu memiliki penduduk dengan bebagai macam profesi dari petani, nelayan, pedagang, PNS hingga tentara dan polisi, meskipun ada jsuga yang jadi TKI iluar Negeri sana. tapi dari beberapa profesi tersebut yang mendominasi saat ini petani dan nelayan. Karena jika kita lihat dari letak geografisnya, desa kami diapit oleh pantai dan ladang pertanan, kita lihat dibagian utara desa kami terbentang luas lahan-lahan pertanian, Dibagian selatan desa kami terhampar luas lahan-lahan petani Garam, laut dan pantai.
Pantai dan ladang pertanian merupakan bagian yang terbesar dari desa kami. di bagian selatan kekayaan dari desa kami yaitu ladang garam dan pantai. Dikala musim kemarau tiba, merupakan musim yang dinanti-nanti oleh penduduk desa kami dibagian selatan, musim kemarau adalah "musim garam" itulah istilah dari penduduk didesa kami. Para petani garam mulai menggarap lahannya untuk mulai memproduksi garam. Dengan peralatan yang masih tradisional, menggambarkan bahwasanya desa kami masih belum tersentuh oleh tangan-tangan asing, setiap hari petani garam senang dengan pekerjaannya.
Bagi mereka yang tidak punya lahan garam bukan berarti Diam berpangku tangan, masyarakat didesa kami tidak kehabisan ide untuk bertahan hidup, bagi yang tidak mempunyai ladang garam mereka memilih berlayar untuk menangkap ikan, para nelayan berangkat dari jam 01:00 pagi hiingga jam 09:00 pagi, istilah dari desa kami yaitu "Majeng", ada pula yang berangkat jam 06:00 pagi hingga jam 10:00 siang, istilah dari desa kami yaitu "ajering", dan banyak istilah-istilah dari desa kami karena beda jam keberangkatan beda istilah. Kemudian hasil tangkapannya bisa dijual pada para tetangga hingga kepedagang ikan yang letaknya di bagian timur desa kami.
Lain dengan masyarakat bagian utara desa kami yang mayoritas petani, bagian utara desa kami membentang luas beribu-rubu hektar ladang pertanian. Jika dipagi hari kita berjalan ke arah utara, suhu udara mulai dingin, embun-embun masih segar belum turun dari pepohonan dan kicauan-kicauan burung yang merdu nan indah. Petani mulai mengambil topi jerami dan cankulnya untuk mulai menggarap ladangnya, Banyak ladang-ladang yang masih produktif untuk ditanami berbagai buah-buahan hingga tembakau dan jagung.
Selain kekayaan berbentuk materiel, desa kami kaya akan non materiel (budaya), penduduk desa kami semuanya menganut agama Islam (sunni) wabil Khusus NU. Kebudayaan kami masih sangat kental, dari pelaksanaan tradisi keislaman hingga hubungan sesama (gotong royong). semangat gotong royong didesa kami masih sangat melekat hingga saat ini, jangan heran ketika melihat suatu kagiatan meski Tanpa mengundang, para tetangga menghampiri untuk turut membntu meski tanpa diiming-imingi imbalan, Ini manandakan bahwa semangat gotong royong didesa kami masih sangat kental.
Itulah sekilas gambaran dari desa kami yang masih perawan dari gangguan-gangguan globalisasi dan moderenisasi. Jika ada istilah "tanah kita tanah surga" mungkin itu cocok untuk istilah desa kami. Sampai Jumpa ditulisan selanjutnya. @Ben

Jumat, 21 Maret 2014

Opini

Tanamkan Perilaku KEPO Pada Anak Sejak Dini

Saat ini bahasa - bahasa keren sudah menjadi trend tersendiri bagi generasi muda khususnya anak-anak .
Mereka sudah terbiasa menggunakan istilah bahasa keren sebagai bahasa sehari-hari mereka seperti: LOL , KEPO , BTW, BRB, AFK, ABABIL, ALAY, MAHO dan lain sebagainya.
Perlu kita ketahui bersama, bahwa perilaku seperti itu sangat tidak baik bagi bangsa, negara dan anak itu sendiri .
karena perilaku tersebut akan menyebabkan hilangnya suatu budaya yaitu budaya bahasa kedaerahan. dan anak itu sudah tidak mau lagi untuk mengenal bahasa daerahnya .
Untuk meminimalisisir atau merubah hal yg kurang baik menjadi baik, yaitu dengan mengkemas istilah-istilah bahasa keren yang sudah menjadi trend itu menjadi suatu sifat yang membangun terhadap anak tsb .
Misalnya : menanamkan rasa KEPO (Knowing Every Particulary Object) atau ( Pingin tau banget ) terhadap anak sejak dini pada pendidikan .
Ketika anak tersebut sudah berperilaku KEPO (Knowing Every Particulary Object) dalam konteks pendidikan .
Maka potensi anak tersebut akan lebih berkembang .
Jadi perilaku kepo yang awalnya hanya dilontarkan tanpa ada manfaatnya dan bisa memmbuat orang lain Jengkel karena sikap itu .
Sekarang bisa menjadi bahan motivsi buat anak supaya belajar lebih giat lagi dan semangad untuk terus menggali referensi-referensi yang banyak, karena perilaku kepo sudah dimiliki oleh anak tersebut dalam pendidikan .
Sebelum anak anda berperilaku kepo, ketika anda menyusruh anak anda belajar sulitnya minta ampun dan tetep aja anak anda tidak mendengarkan anda .
Sekarang tidak lagi .
Karena anak anda sudah memiliki perilaku kepo terhadap pendidikan.
Anda sudah tidak perlu capek-capek lagi menyuruh anak anda untuk belajar. Karena tanpa di suruh anak anda akan belajar sendiri. karena dia KEPO (Knowing Every Particulary Object) pada pendidikannya .
Jadi tidak semua hal yang buruk itu tetap menjadi buruk .
Namun adakalanya Hal yang buruk menjadi sangad baik jika kita bisa menkemasnya sekreatif mungkin .
Mulai sekarang tanamkanlah perilaku kepo pada anak anda sejak dini